Kue
Putu

Sejarah Kue Putu

Kue putu memiliki sejarah yang panjang dan lintas budaya, berakar dari
tradisi kuliner Asia Selatan hingga berkembang menjadi jajanan khas Nusantara.
Nama “putu” diyakini berasal dari bahasa Sanskerta puttu yang berarti “beras
kukus dalam cetakan.” Hidangan serupa sudah dikenal di India Selatan dan Sri
Lanka sejak berabad-abad lalu, biasanya berupa tepung beras kukus dengan
kelapa. Melalui jalur perdagangan dan migrasi, tradisi ini menyebar ke Asia
Tenggara, termasuk ke Indonesia, dan beradaptasi dengan bahan lokal seperti
gula aren dan kelapa parut.

Di Indonesia, kue putu mulai populer sejak masa kerajaan Jawa sebagai
makanan rakyat yang sederhana namun sarat makna. Tepung beras yang dikukus
dalam cetakan bambu melambangkan kesederhanaan, sementara isian gula
merah cair dianggap sebagai simbol manisnya kehidupan. Kue putu sering
disajikan dalam acara adat, pasar malam, dan kenduri desa, menjadi bagian dari
kebersamaan masyarakat. Suara khas “siulan” dari kukusan bambu pedagang
keliling bahkan menjadi identitas kue ini, membangkitkan nostalgia suasana
kampung.

Pada masa kolonial, kue putu tetap bertahan sebagai jajanan rakyat yang
murah meriah dan mudah dijangkau. Pedagang keliling dengan gerobak bambu
berasap menjadi pemandangan umum di kota-kota besar, memperkuat citra kue
putu sebagai makanan rakyat yang egaliter. Seiring waktu, variasi kue putu muncul
di berbagai daerah: di Jawa dikenal dengan bentuk silinder kecil berisi gula merah,
di Sumatra ada versi serupa dengan isian kelapa manis, sementara di Bali putu
kadang disajikan dalam upacara adat dengan makna simbolis tertentu.

Memasuki abad ke-20 hingga era modern, kue putu tetap bertahan di pasar
tradisional dan kaki lima, namun juga mengalami inovasi. Kini ada putu dengan
warna-warni menarik, isi cokelat, keju, atau durian, bahkan versi mini untuk
hidangan pesta. Meski demikian, kue putu klasik dengan tepung beras, gula
merah, dan kelapa parut tetap menjadi ikon kuliner Nusantara yang
mencerminkan kesederhanaan sekaligus kehangatan tradisi.

 

 

Follow Us!

© DFLAMMA

Drag and Drop Website Builder